Senin, 22 Desember 2014

Meniti Jalan Menuju Gelar Sarjana



Oleh: Zurnila Emhar Ch

Pertengahan tahun 2009 adik laki-lakiku menamatkan pendidikan aliyahnya. Sejak lama dia berhasrat menjadi sarjana. Ada ketakutan di mata Ibu ketika dia mengutarakan niatnya. Ibu khawatir tidak bisa mewujudkan harapan itu, mengingat Abak dan Ibu yang sudah sakit-sakitan. Kami bukan orang berada.
Ibu berpendapat; daripada gagal di tengah jalan mendingan cari kerja dari semula. Tapi aku dan adikku tidak sependapat. Aku meyakini Allah akan memberikan kemudahan. Jika tidak, tidak mungkin Dia akan menyuruh kita menuntut ilmu. Bukankah telah dikatakan; Allah akan meninggikan orang-orang berilmu itu beberapa derajat! Maka saya meyakinkan Ibu bahwa Allah tidak mungkin berdusta.
Setelah berhasil menaklukan kekhawatiran Ibu, adikku mulai mengikuti bimbingan belajar untuk menembus perguruan tinggi. Setelah mengikuti tes di Sumbar dan Riau, akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa IAIN Imam Bonjol, Padang, jurusan Muamalat.
Mengingat kondisi orangtua dan adik bungsu yang masih sekolah, kami membuat kesepakatan; adikku harus bisa mencari dana sendiri untuk menutupi kekurangan dana yang berasal dari orang tua. Untuk itu kami bahu-membahu.
Saat itu aku tidak bisa banyak membantu. Penghasilanku hanya Rp.800.000/bulan. Sebisa mungkin aku menyisihkan uang untuk dikirim pada orang tua ataupun adik. Selain itu aku juga menyisihkan sedikit demi sedikit uang agar bisa membeli laptop impianku.
Dan adikku pun melakukan beberapa pekerjaan serabutan di luar jam kuliyahnya. Mulai dari ikut mengaduk semen untuk proyek yang tengah dibangun tak jauh dari kampusnya, membuat mainan kunci dari tempurung kelapa, menjual aksesoris,  jilbab, dan tas sambil berteriak-teriak.
Penghasilannya dikumpulkan untuk modal usahanya kelak, katanya.
Sekitar pertengahan kuliyah, bersama temannya dia memberanikan diri menyewa kedai di Pasar Raya, Padang. Beraneka aksesoris mereka jual. Terkadang juga menerima pesanan plakat.
Menjelang penyusunan skripsi dia pindah kerja ke tempat fotokopi. “Lebih mudah mengulang pelajaran di sana ketimbang di pasar,” katanya. Dan bulan Oktober 2013, akhirnya dia menyandang gelar sarjana. Lulus tepat waktu dengan IPK 3,72.***

Senin, 08 Desember 2014

Daisuki Da Yo Fani-Chan: Mengenal Dunia Seorang Resepsionis




Judul buku        :  Daisuki Da Yo Fani-Chan (Cinta Akan Indah Pada Waktunya)
Penulis             :  Winda Krisnadefa
Tahun terbit      : Juni 2014          
Penerbit           :  Qanita
Jumlah halaman :  300 halaman
ISBN               :  978-602-1637-36-4




Oleh: Zurnila Emhar Ch


 
Menunggu itu menyakitkan. Melupakan juga menyakitkan. Namun, bimbang antara menunggu dan melupakan itu penderitaan yang paling parah.
Kalimat Paulo Coelho tersebut menjadi pembuka dari novel Daisuki Da Yo Fani-Chan: Cinta Akan Indah pada Waktunya karangan Winda Krisnadefa ini. Novel ini mengisahkan tentang Fani, seorang resepsionis sebuah perusahaan Jepang, Misako and Co., Ltd. Sebenarnya Fani adalah lulusan sekolah tinggi perhotelan. Dia tercatat sebagai mahasiswi yang berprestasi. Namun setelah tamat kuliah Fani bersedia menganggur dan hanya menjadi resepsionis karena keengganannya bekerja di hotel.
Di perusahaan tersebut Fani berbagi pekerjaan dengan Anis, rekan sesama resepsionisnya. Fani dan Anis bak bumi dan langit. Fani begitu kalem dan anggun, sedangkan Anis tipikal cewek agresif, dan cendrung liar. Pada mulanya Fani tak ingin menjalin persahabatan dengan siapapun namun kejujuran Anis yang apa adanya menjadi pesona tersendiri bagi Fani. Di depan Anis, Fani bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.
Walaupun begitu, sedikit pun Fani tidak terpengaruh dengan gaya hidup Anis. Fani selalu menolak setiap ajakan makan siang dari pegawai-pegawai di kantor  itu –termasuk orang Jepang- yang datang padanya dengan halus, meskipun Anis telah menggambarkan padanya siapa saja yang bersaku tebal dan royal.
Keteguhan Fani berbuah perhatian dari bosnya, Tanabe-san. Namun, untuk mendapatkan perhatian yang sama, Tanabe harus berupaya sungguh-sungguh. Meskipun sudah jujur mengungkapkan perasaannya, bukan berarti gayung langsung bersambut untuk Tanabe.
Sikap Fani yang tidak mudah jatuh hati menjadi salah satu daya tarik novel ini. Kebanyakan tokoh-tokoh perempuan kesulitan untuk berpaling dari pesona eksekutif muda. Apalagi yang berdarah luar negeri. Di sini, justru Tanabe-lah yang mengejar-ngejar Fani. “Kamu jangan salah paham. Saya hanya ingin selalu dekat dengan kamu, tapi kelihatannya kamu tidak punya keinginan yang sama dengan saya. Saya sudah lama berkata jujur padamu kalau saya suka dan ingin kenal kamu lebih jauh lagi, tapi sampai sekarang justru kamu yang belum menampakkan sikapmu. Apa yang kamu rasakan tentang saya, Fani? Apakah sama seperti perasaan saya? Atau kamu biasa-biasa saja?” (hal.185)
Perbedaan watak antara Fani dan Anis, tidak membuat salah satunya merasa lebih baik dari yang lain. Fani kerap sekali melindungi Anis dari Dian, sekretaris yang cukup galak di  perusahaan itu. Termasuk menyimpan rahasia Anis dari pacar-pacarnya. Bahkan pada Tanabe, Fani menunjukkan rasa tidak sukanya ketika lelaki Jepang itu menguraikan kenalan Anis. (hal.142)
Novel ini diceritakan dengan berselang-seling antara Fani yang sekarang bekerja di perusahaan Jepang dengan kisah Fani sewaktu magang di Singapura. Membaca masa remaja Fani membuat rasa penasaran karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan Fani dewasa hingga pertengahan cerita. Mendekati akhir novel barulah penulis menautkan kisah Fani remaja dengan Fani dewasa. Ternyata keengganan Fani bekerja di hotel adalah bagian dari trauma masa magangnya. Di Singapura, dia kehilangan Lana, sahabatnya dengan cara yang sangat tragis.
Trauma itu pulalah yang membuat Fani mengundurkan diri dari Misako dengan membawa nama buruk  demi melindungi Anis. (hal. 214)
Secara keseluruhan alur novel ini menarik, hanya saja posisi Fani sebagai tokoh utama terasa tersaingi oleh Anis. Anis lebih mendominasi alur cerita. Penulis dengan detail menuliskan seperti apa watak resepsionis itu, gaya berpakaian dan pergaulannya dengan sekian orang pacar. Bahkan kondisi keluarga Anis yang kurang beruntung sehingga menuntutnya melakukan apa saja sebagai tulang punggung keluarga terkesan lebih dramatis ketimbang sosok Fani.
Detailnya penulis dalam menggambarkan Anis –salah satunya- bisa ditemukan pada paragraf beikut; Jam dua belas kurang kurang lima belas menit Onis masuk menuju pantry. Tidak lupa disandangnya tas Prada hitam barunya. Tommy mengirimkannya langsung dari Milan seminggu yang lalu. Sekali lagi aku hanya bisa menggeleng-geleng melihat penampilannya. Onis seperti manekin berjalan. Mulai dari dalaman sampai ujung kaki, semuanya branded. Untuk ukuran gaji seorang resepsionis, Onis sangat berkelas. Tapi tentu saja aku tahu dari mana benda-benda mahal itu berasal. Bra Victoria’s Secret, kosmetik Max Factor, blazer dan rok dari Next, dan hari ini dia memakai sepatu Manolo Blahnik yang dibelikan Cedric sebulan yang lalu. Belum lagi isi tasnya. Dompet LV, kacamata hitam Gucci dan beberapa alat make-up kecil dari Lancome. She’s stuffed with branded stuff. (hal.97)
Kedekatan Fani dengan Tanabe-san mulai menguasai alur saat menjelang akhir novel. Ketika Fani diterima sebagai sekretaris di perusahaan Fujita Corp. Pada waktu yang berdekatan sosok Ogi kembali muncul setelah sekian tahun menghilang dari dunia Fani. Bersama Ogi, kekasih masa remajanya, Fani mencoba untuk memaafkan dirinya atas kejadian yang menimpa Lana.
Hal yang terasa janggal pada novel ini terdapat pada kavernya. Ranting pohon yang terdapat pada kaver berwarna lembut dan judul dalam bahasa Jepang tersebut memberi kesan yang kuat akan suasana Jepangnya. Namun, dalam penyajiannya novel ini tidak menyinggung Jepang sama sekali. Sebagaimana settingnya, nuansa Jakartanya kental sekali.
Dan yang paling mengesankan dari novel ini adalah tema yang diangkat. Jarang sekali penulis mengangkat seluk-beluk dunia perhotelan dan posisi seorang resepsionis ke permukaan. Para pembaca disuguhi keriuhan di dapur hotel, juga keseharian seorang resepsionis. Untuk itu, Winda Krisnadefa bisa dibilang berhasil dalam cerita ini. ***

Dimuat Koran Singgalang, 23 November 2014

Kamis, 20 November 2014

Ranting Patah Rieca: Membaca Kepolosan Seorang Bidan

Judul buku           :    Ranting Patah Rieca
Penulis                 :    Lusi Septy RS
Tahun terbit          :   Juli 2014   
Penerbit               :    Pustaka Nusantara
Jumlah halaman    :   150  halaman
ISBN                   :    978-602-7645-36-3


 

Oleh : Zurnila Emhar Ch

Cinta memang tak bisa ditebak. Ketika ditunggu-tunggu tak kunjung datang, ketika lupa dia menyapa. Ada yang bertahan. Ada pula yang pergi begitu saja.

Novel ini mengisahkan romansa Rieca, seorang bidan dan pemilik toko online. Setelah lulus SMA, Rieca ingin melanjutkan sekolahnya di sekolah kebidanan di Malang. Namun keinginannya ditentang orangtuanya. Ibunya justru mengirimnya ke sekolah kebidanan di Mojokerto. Kabar kelulusannya di kampus itu tidak menjadi kabar gembira baginya. Rieca menjalankan aktivitasnya di kampus dengan separuh hati.

Kehidupan di kost pun tidak memberi ketenangan padanya. Jika di kampus, Rieca kerap ditertawakan teman-temannya karena keasal-asalannya maka di kost dia kerap digoda karena jomblo. Ini situasi yang paling menyakitkan baginya. Melewati malam minggu sendirian ketika hampir semua teman-teman sekostnya keluar bersama pasangannya.

Namun ketidaknyaman tersebut tidak berlangsung lama. Setelah diperkenalkan Febri kepada Fahri, hari-hari Rieca menjadi indah. Walau baru berkomunikasi lewat handphone semangat Rieca menjadikan hari-harinya berubah 180 derajat.

Pelajaran kebidanan disimaknya dengan suka cita, menyambut kelahiran bayi-bayi mungil tidak lagi membuatnya gugup. Kampus dan RSUD tempatnya praktek seperti berubah menjadi taman bunga yang indah.

Ketika diajak Fahri bertemu untuk pertama kalinya Rieca malah berpikir untuk mengeritingkan rambut, luluran dan memakai bulu mata palsu. Dan semua itu tidak jadi dilakukannya atas saran Febri yang memintanya untuk tampil alami. Walau begitu, Rieca memiliki pembenaran atas tindakannya. Cinta memang gila. Tapi, dalam cinta, hal-hal gila selalu menemukan kewajarannya. (hal.54)

Setelah pertemuan pertama tokoh utama, alur novel ini berjalan seputar romansa keduanya dalam bentuk khayalan Rieca, atau percakapan-percakapan mereka di ponsel. Percakapan-percakapan pendek yang sering berakhir dengan salah paham.

Sampai suatu saat Rieca mendapat telpon dari ibu Fahri yang memintanya datang ke rumah. Ibu Fahri ingin berkenalan dengannya. Rieca memenuhi undangan ibu Fahri untuk datang dan menginap.

Di sana, Rieca menerima telpon dari seorang perempuan yang mencoba menghubungi Fahri. Perempuan tersebut langsung menutup percakapan ketika Rieca menyebut dirinya pacar Fahri. Kecurigaan Rieca membawanya memeriksa daftar pesan dan MMS di ponsel lelaki yang membuatnya tergila-gila itu. Dalam salah satu MMS itu dia menemukan photo Fahri dengan perempuan lain. Seketika Rieca meminta pulang. Rencana menginap pun batal.

Ending novel ini mengantung. Setelah kejadian di rumah Fahri, hubungan keduanya memang sempat membaik. Fahri minta maaf. Rieca mengampuni karena terlanjur sayang. Aku mendengar nada kesungguhan dari suara Fahri. Hari ini dia memang memporak-porandakan hatiku. Tapi malam ini, dia kemabali menyembuhkan. (hal.117)

Namun bukan berarti hubungan mereka kembali seperti sedia kala. Tidak ada lagi  percakapan-percakapan seperti sebelumnya. Padahal pada calon ibu mertuanya Rieca telah menyatakan mantap menerima Fahri apa adanya. Tapi pada hari wisudanya, kehadiran Fahri tidak disinggung sama sekali.

Novel ini ditutup dengan usaha Rieca membangun bisnis onlinenya sebagai pelarian dari kegalauannya terhadap status hubungannya. Rieca mendirikan toko online Fahrica yang menjual jilbab-jilbab yang didesain sendiri setelah sebelumnya menjadi reseller beberapa produk.

Membaca novel ini serasa membaca diary remaja. Begitu polos sekaligus konyol. Rieca yang digambarkan sebagai sosok yang mudah jatuh cinta, mudah ge-er, juga mudah salah paham dan Fahri yang cuek sebenarnya sangat berpotensi menjadikan karangan ini bergenre komedi romantis. Tapi, tampaknya penulis ingin menulis novel ‘serius’. Jadilah dengan watak tokoh-tokoh utama yang demikian, perselisihan paham mudah ditemui dan berakhir tanpa kejelasan.

Hal yang mengganggu kisah ini adalah tidak adanya penjelasan tentang Fahri. Laki-laki itu bekerja di Jakarta. Ibunya tinggal di Mojokerto. Namun tidak digambarkan seperti apa pekerjaannya.

Selain itu, cara penceritaan novel ini seperti dibagi atas beberapa bagian padahal tidak demikian. Hanya saja, di bab-bab awal, Rieca fokus menceritakan ketidaknyamannya tinggal dan sekolah di Mojokerto. Serta praktek-praktek kebidanannya. Lalu, begitu dikenalkan Febri kepada Fahri, alur novel dikuasai oleh percakapan-percakapan mereka di ponsel beserta khayalan-khayalan Rieca tentang cinta. Dan sekembali dari rumah Fahri, Rieca kembali kembali ke dunia bidannya. Rieca membantu persalinan demi persalinan.

Dan setelah ditawari belanja online oleh teman kerjanya, Rieca bersemangat memulai usaha yang sama. Sampai terbentuklah toko online Fahrica. Pada bab ini Fahri hanya berkelindan dalam angan dan percakapan Rieca dengan ibunya. Hubungan mereka makin tak jelas. Komunikasi sudah tak lancar. Dan Rieca tidak lagi merindukannya. Bagi saya, seperti ada yang rumpang dalam alurnya. Namun semangat Rieca dalam survive dan membangun bisnisnya patut diacungi jempol dan layak ditiru.***

14 Oktober 2014

Dimuat di tubuhjendela.com edisi November 2014
http://tubuhjendela.com/membaca-kepolosan-seorang-bidan/





Sabtu, 15 November 2014

Embun di Atas Daun Maple: Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan Keyakinan

Judul buku           :    Embun di Atas Daun Maple
Penulis                 :    Hadis Mevlana
Tahun terbit          :     September 2014   
Penerbit               :    Tinta Medina (Tiga Serangkai)
Jumlah halaman    :    286  halaman
ISBN                   :    978-602-9211-72-6


Oleh : Zurnila Emhar Ch

Perbedaaan agama sejatinya bukanlah penghalang untuk membangun persaudaraan dengan orang lain. Di mana pun tempatnya, dan seperti apapun kondisinya. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan setiap agama akan menjadi jembatan.

Sikap kebersamaan dalam perbedaaan keyakinan itu bisa kita temukan dalam novel Embun di Atas Daun Maple ini. Keseharian Muhammad Sofyan Alfarisi, Callista Kiara Filothei dan teman-temannya membuktikannya. Persahabatan yang sudah seperti saudara mereka lakoni walau berasal dari negara dan keyakinan yang berbeda-beda.

Sofyan merupakan mahasiswa S-2 di Universitas Saskatchewan, Kanada. Dia berasal dari Teluk Kuantan, Riau. Tinggal di negeri ‘keranjang roti’ membuatnya kerap dilanda kerinduan pada emak dan Aini. Hari-harinya dihabiskan untuk kuliah, menulis, mengajar privat. Dan tentu saja dalam pergaulannya Sofyan kerap menceritakan tentang kampungnya dengan tradisi paju jalur mereka.

Sofyan tinggal di apartemen di kota Saskatoon. Sekamar dengan Felix, seorang kristiani. Tidak ada cerita yang istimewa di apartemen mereka. Hanya setiap hari selalu saja ada mawar putih dan sebuah puisi cinta ditemukan di depan pintu kamarnya. Namun Sofyan sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu tentang pengirimnya. Justru Felix yang berusaha menemukan sosok itu.

Hari-hari Sofyan semakin seru sejak berkenalan dengan Kiara, gadis Rusia yang dari ibu berdarah Aceh. Gadis berambut cokelat tersebut sangat bernuansa Indonesia. Di kesehariannya, Kiara kerap memakai pernak-pernik Indonesia seperti kalung khas Dayak, gelang ukiran khas Bali, anting-anting mutiara khas Lombok. Tapi bukan itu yang membuat Sofyan senang berteman dengannya. Kiara merupakan gadis yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, sekaligus santun. Rasa ingin tahunya justru tercurah pada hal-hal yang berkaitan dengan agama.

Diskusi pertama tentang Mary the Virgin membawa mereka pada diskusi-diskusi berikutnya. Bukan hanya mereka berdua. Hampir di tiap diskusi ada Felix, Fritz, Eva, Zahra dan Olivia. Dalam perjalanannya novel ini justru dikuasai oleh diskusi-diskusi antar agama tersebut sehingga lebih berasa buku agama ketimbang novel.

Hal yang menarik dari novel setebal 286 halaman ini adalah sosok Kiara itu sendiri. Kiara tumbuh dalam keluarga yang demokratis. Orangtuanya dan Paman Gamaliel merupakan Orthodox sejati. Sedangkan Paman Moses Loachim adalah seorang protestan. Juga ada paman yang muslim. Namun kedemokratisan itu juga mendatangkan kekhawatiran. Orangtua Kiara kerap menegur Paman Moses untuk tidak membawa Kiara ke luar dari keyakinan Orthodoxnya. Bahkan kedekatan Kiara dengan Sofyan dalam berdiskusi juga ditegur oleh paman Gamaliel yang merasa Kiara sangat jauh dari ajaran Orthodox yang cendrung lebih ke batin, memperbaiki diri, dan hidup dalam budaya rasuliahnya. (hal.231)

Menurutnya, orang-orang Orthodox itu harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara memperbaiki spiritual mereka. Bukannya tidak boleh berdiskusi, hanya tidak ada gunanya. Dua keyakianan yang berbeda itu tidak untuk didiskusikan karena memang tidak bisa disatukan.” (hal.222-223).

Walau memahami inti dari keyakinannya namun tema-tema yang diperbincangkan para mahasiswa ini kerap datang dari pertanyaan Kiara.

Dan yang luar biasa dari Kiara adalah pemahamannya terhadap pembagian harta warisan dalam Islam. Ketika sekumpulan mahasiswa non muslim membicarakan warisan dalam Islam yang katanya tidak memihak wanita, Kiara justru mendatangi mereka seraya membeberkan panjang lebar tentang pembagian warisan tersebut.

“Apakah kalian tahu bahwa dalam Islam seorang laki-laki ketika menikah mempunyai kewajiban membayar mahar, menyediakan tempat tinggal, serta memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya setelah berumah tangga? Biaya pendidikan dan pengobatan anak-anak dan istri adalah tanggung jawab suami, bukan?” (hal.138)

Kiara tidak peduli dengan pandangan aneh teman-temannya terhadap ‘pembelaaannya’ tersebut.

Selain keharmonisan Sofyan dan teman-teman sependidikannya, ketulusan yang menyentuh juga ditunjukkan Mario, cleaning service apartemen mereka. Ketika melihat Sofyan terburu-buru untuk menunaikan shalat subuh, Mario yang beragama kristen pun menawarkan mengantarkan Sofyan dengan sepedanya ke masjid. Dan setiap kali membagikan makanan, Mario selalu memperhatikan kehalalannya.

Romansa dalam novel karangan Hadis Mevlana ini bagi saya tidak terasa. Di akhir cerita penulis memang memberi jawaban tentang mawar putih dan puisi cinta yang selalu ditemukan di depan kamar Sofyan namun bukan berarti ada pembicaraan perasaan di antara mereka.

Hal yang menurut saya terasa agak berlebihan di sini justru terdapat pada tokoh Sofyannya. Sosok mahasiswa itu terlalu sempurna. Sofyan begitu paham dengan Alquran, pun Injil. Bahkan Sofyan mampu memecahkan tafsiran surat Maryam dan menghubungkannya dengan kata-kata Al-Masih Ilahi dalam Aramaic Code yang baru dilihatnya.

Sosok Sofyan menjadi satu-satu muara pengetahuan bagi semua pertanyaan. Dari urusan agama sampai urusan kesehatan. Sekiranya  pengetahuan ini dibagi-bagi maka tokoh yang lain juga akan terasa kehadirannya.

Untuk novel yang berbicara tentang perbedaaan keyakinan dengan toleransi yang tinggi, pilihan kaver berwarna putih dengan beberapa lembar daun maple ini terasa cocok sekali. Menenangkan. Untuk menulis buku seperti ini, penulis patut diacungi jempol karena mampu mengetengahkan diskusi tanpa diskriminasi sedikit pun. Seperti kata Kiara, “Aku selayaknya penanya dan kau penjawabnya. Selebihnya tak ada niat lain, kecuali menambah wawasan semata dan pada akhirnya aku bisa menghargai pendapat dan keyakinan orang yang berseberangan denganku.” (hal.223)

***

Oktober 2014

Dimuat di Koran Jakarta, 6 November 2014
http://www.koran-jakarta.com/?23473-keindahan%20kebersamaan%20dalam%20perbedaan%20agama

Sabtu, 01 November 2014

Ketika Autisme Menyatukan Kasih


Judul buku           :    Sequence
Penulis                 :    Shita Hapsari
Tahun terbit         :     Maret 2014   
Penerbit               :    Bentang
Jumlah halaman   :    254  halaman
ISBN                    :    978-602-291-001-5




Oleh : Zurnila Emhar Ch

Persoalan jodoh memang bukan urusan yang sederhana. Perjalanan panjang yang ditempuh bersama-sama bukan jaminan akan membawa pada satu tujuan yang pasti. Pun ketika telah sampai pada titik yang bernama pernikahan, mempertahankannya juga bukan perkara mudah.

Untuk menyatukan hubungan laki-laki yang cendrung menggampangkan masalah dan perempuan yang lebih teliti dan suka memperhatikan hal-hal yang kecil -- dalam keselarasan memang dibutuhkan perhatian dan kepekaan kedua belah pihak.

Klaris dan Ine, dua orang perempuan berpendidikan yang memiliki karir yang bagus ini menunjukkan bahwa perempuan lebih menyukai pasangan yang peka terhadap perasaannya ketimbang limpahan materi atas nama kasih sayang.

Klaris telah berpacaran dengan Tedi selama lima tahun. Hubungan mereka berjalan biasa-biasa saja. Hampir di setiap keputusan Tedi-lah yang mengaturnya. Dan Klaris mengikuti tanpa ada bantahan. Begitu juga dengan pendidikan dan karirnya.

Berawal dari hobinya menonton film I am Sam yang mencerita seorang pria dewasa yang memiliki kecerdasan setara dengan anak berumur tujuh tahun, Klaris tiba-tiba saja ingin mengenal lebih jauh tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Dan menjadi guru mereka.

Saran Tedi agar dia melanjutkan pendidikan S-2-nya di jurusan psikologi dan menjadi konselor tak digubrisnya. Untuk pertama kalinya sejak berpacaran dengan Tedi, Klaris ingin menempuh jalan yang dia inginkan yang bisa membuatnya bahagia.

Untuk itu Klaris kerap berkunjung ke Sekolah Hebat, sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di situ Klaris berkenalan dengan Choky, konselor dan penyususn kurikulum. Choky membantu Klaris merumuskan tujuannya karena untuk menjadi guru berarti Klaris harus kuliyah lagi dan harus siap dengan penghasilan yang tak seberapa. Itu juga berarti meninggalkan pekerjaannya dengan karir yang sedang menanjak.

Perkenalan Klaris dengan Yuni, pramukantornya yang memiliki anak (diduga) autis membuat tekadnya makin kuat. Klaris membantu Yuni menemukan sekolah yang tepat untuk anaknya.

Berbeda dengan Klaris, Ine, atasannya di kantor, telah menikah dan memiliki seorang putri remaja. Namun, posisi penting di perusahaan, anak yang cantik dan pintar serta gelimang harta tak membuatnya bahagia. Suaminya sering pulang larut malam dengan berbagai alasan. Terakhir Ine mendapat kiriman foto suami sedang bersama perempuan lain.

Untuk membuang kesal dan mencari pelampiasan, Ine menjalin hubungan dengan Ludi Alfons, seorang chef muda di Hotel Berlian yang berkenalan dengannya saat membuntuti suaminya. Keramahan dan ketampanan Ludi kembali menghidupkan letupan-letupan di hati Ine. Dia tidak peduli walau usia Ludi jauh di bawahnya. Bahkan Ine berani mengajak Ludi liburan berdua ke Lombok.

Namun sebelum rencana liburan itu terealisasi, Ine mendapati kenyataan bahwa Ludi adalah pacar Lana, anaknya. Tentu Ine merasa terpukul.

Jika sebelumnya Ine menganggap hubungannya dengan Lana baik-baik saja, maka sejak melihat kebersamaan Ludi dan Lana di Mal Candlewood, Ine mulai memikirkan posisinya sebagai seorang ibu. Kekhawatiran terhadap Lana menyergapnya seketika. waktu dia mempertanyakan hubungan mereka pada Ludi, chef tampan itu hanya menjawab, “Kita... dua orang dewasa yang bersenang-senang tanpa beban.” (hal.116) Barulah Ine tahu, Ludi tidak menganggapnya sebagai kekasih.

Kisah dalam  novel pemenang Lomba Novel Wanita dalam Cerita ini menjadi makin mendebarkan saat suami Yuni kecelakaan. Ine menduga suami yang melakukan tabrak lari pada suami bawahannya. Tapi ternyata pelaku itu adalah Tedi.

Rasa simpati Ine makin besar melihat semangat Yuni dalam membantu mencari penghasilan tambahan agar bisa memasukkan anaknya ke sekolah yang tepat. “Saya enggak pengin muluk-muluk. Cuma pengin dengar dia bilang ‘ibu-bapak’. Saya enggak takut dia bodoh. Saya cuma takut kalau dia enggak ngerti kalau orangtuanya sayang dia, enggak bahagia, tapi enggak bisa ngungkapin.” (hal.215) Curahan hati Yuni tersebut menyentil sisi keibuan Ine. Dia sadar, jarak antara dirinya dan Lana semakin lebar. Ine tidak tahu apakah Lana bahagia. Dia tidak pernah berpikir tentang itu dan Lana juga enggan bercerita.

Yang menarik dari novel ini, adanya kesadaran para tokoh utama untuk mempertanyakan sikap mereka. Setelah menerima ajakan Choky untuk menonton, Klaris mempertanyakan sendiri sikap dan kesetiaannya pada Tedi. Bahkan untuk meyakinkan dirinya perempuan yang setia, Klaris mengajak temannya ikut merumuskan hubungan perasaannya pada Tedi dan Choky.

Pada paragraf; ‘Mengapa, sesal Klaris, selalu dibutuhkan kehadiran atau kepergian orang lain untuk mencari tahu kedalaman hati. (hal.150)’ menunjukkan kalau dia benar-benar memikirkan hubungannya.

Hal yang mengganjal selama membaca novel ini adalah sikap Ine terhadap putrinya. Hampir setiap hari dia mendapati putrinya pulang malam namun dia tidak pernah benar-benar menegur walaupun dia tidak suka Lana seperti itu. Bahkan Ine tidak pernah mencoba mencari tahu siapa yang mengantar anaknya pulang malam.

Begitu pun Tedi. Perjalanan cintanya selama lima tahun dibiarkan kandas begitu saja. Hanya ajakan menikah yang bisa ditawarkannya untuk mengikat Klaris tanpa mencoba memahami dan menerima jalan pikiran gadis itu. Dan ketika Klaris mengungkapkan “... pernikahan itu bukan hasil dari investasi hubungan sekian tahun atau pelabuhan terakhir saat kamu punya masalah.” (hal. 206), Tedi menyerah.

Shita Hapsari sukses memainkan alur cerita ini. Novel ini berhasil menghadirkan romansa dalam takaran yang cukup. Dan sukses menjadikan autisme sebagai penghubung para tokoh. ***


Perawang, 12 Oktober 2014
Dimuat Koran Singgalang, 20 Oktober 2014
Add caption

Minggu, 12 Oktober 2014

Selamat Datang di Era Imagologi: Di Balik Gurihnya Sajian Internet dan Televisi


Judul buku            :  Selamat Datang di Era Imagologi
Penulis                   :  Anggrahini KD
Tahun terbit           : Maret 2014
Penerbit                 :  Pustaka Nusantara
Jumlah halaman     :  160 halaman
ISBN                     :  978-602-7645-25-7





Oleh: Zurnila Emhar Ch

Saat ini internet bukan lagi sesuatu yang asing di telinga. Internet telah akrab dengan semua golongan. Pengusaha, mahasiswa, pelajar SD mengenal internet. Begitu juga dengan tukang jual sayur, petani, pengamen, hingga pembantu rumah tangga.
Dengan internet semua serba mudah. Orang tua yang tidak bisa membantu anaknya menyelesaikan tugas sekolah bisa dibantu oleh internet. Sediakan saja seperangkat komputer di rumah. Atau beri saja mereka uang untuk ke warnet.
Berkat perkembangan internet, dunia memang bisa dilipat dan diringkas. Sosialisasi, jual-beli, hingga perencanaan teror dan pembunuhan, bisa dengan mudah dilakukan hanya dengan jentikan jemari tangan. Koneksi internet, bukan lagi sekadar perantara, melainkan juga representasi sebuah dunia. (hal.38)
Internet juga bisa melahirkan sebuah aksi-aksi kemanusiaan seperti Koin Cinta Bilqis yang merupakan usaha menggalang dana untuk pengobatan Bilqis yang mengidap penyakit atresia bilier beberapa waktu lalu. Juga aksi mendukung Prita Mulyasari yang berperkara dengan sebuah rumah sakit terkenal. Dengan aksi-aksi peduli tersebut, internet menunjukkan kemampuannya untuk bicara secara nyata.
Internet telah menjadi muara bagi banyak kepentingan. Internet bahkan bisa mengubah karakter seseorang. Sifatnya jadi bertolak belakang dengan kenyataan. Yang nampak santun di dunia nyata, bisa menggila di dunia maya. Yang biasanya pemurung pun jadi ceria.
Namun, apakah semua sajian internet itu layak disantap? Tentu tidak! Para pelajar dan remaja masih terlalu dini untuk mengenal gaya hidup bebas. Juga tak ada keuntungan membuka situs-situs yang menyimpan konten pornografi bagi siapapun.
Untuk menghadapi dunia maya yang begitu gemerlap tidak hanya dibutuhkan perlindungan dengan UU ITE atau dengan memblokade perangkat komunikasi terhadap situs-situs berbahaya. Hal paling pokok adalah tetap memakai akal sehat dan nurani terhadap mesin pencari yang serba tahu itu.
Begitu juga dengan televisi. Beragam program dikemas agar menarik untuk ditonton. Sasaran dari tiap program pun jelas. Ada label BO (Bimbingan orang Tua), R (Remaja) dan D (Dewasa). Namun label-label itu kerap diabaikan. Kebanyakan orang tua selalu merasa aman jika anaknya menonton kartun. Padahal lewat kartun anak-anak sebenarnya dijejali dengan tayangan yang mengajarkan kekerasan. Ada pukulan, tendangan, tamparan dan kekejian. Setelah kartun, sinetron pun ambil kendali. Jam tidur dan jam belajar anak diatur oleh tayangan televisi.
Abdurrahman Faiz menulis tentang hal ini dalam puisinya; “Dari pagi sampai malam/ kami menghapal televisi/ kami cerna kelicikan, darah, goyangan, dan semua jenis hantu/ sambil mendebukan buku-buku/”
Semoga apa yang dialami Grace Cristina, pemenang Lomba Curhat Anak tentang Televisi yang diadakan UNICEF, 2006, tidak terjadi kepada anak-anak kita. Sewaktu muda Grace seorang maniak televisi. Suatu ketika, orang tuanya datang mengganggu saat dia asyik bermain. Dengan penuh amarah, Grace mencengkram bahu ayahnya dan berteriak, “Kubunuh kau, Papa!” (hal.66)
Dan untuk pemirsa setianya yang remaja dan dewasa, televisi menghadirkan program infotainment dan sinetron yang kebanyakan menampilkan wajah segar berumur belasan tahun.
Dalam infotainment batas realita sengaja diabu-abukan. Pemirsa dipermainkan dengan narasi yang berdasarkan praduga semata. Kronologis pemberitaan membuat penggemar acara gosip seperti tengah membaca novel. Industri pertelevisian telah berhasil menggiring watak pemirsa acara gosip untuk terus berprasangka. Dan mencari muara curiga tersebut lewat tayangan infotainment. Televisi telah menjadi komoditi yang menggiurkan. Penonton digunai-gunai agar setia menjelma menjadi buruh bagi industri televisi.
Para remaja pun berlomba-lomba untuk menjadi bintang. Mereka mengikuti casting dan ajang-ajang pencarian bakat. Ada pula yang mengunggah vidio di intenet. Dunia musik pun menghentak. Berbagai aliran dan penyanyi pendatang baru bermunculan. Televisi sebagai sarana audio-visual menjadi wadah untuk mendapatkan tempat di hati pemirsa. Sihir televisi dimanfaatkan oleh pelaku industri untuk mendulang rupiah dan popularitas. Walau kadang musikalitas syairnya ala kadarnya.
Pemirsa musik terbuai dengan gerak penyanyi yang terkadang lipsync juga tergoda oleh wajah rupawan bintang sinetron ataupun para pelawak yang unjuk menyanyi. Belum lagi lirik dan aransemen apa adanya yang menggejala, goyang erotis ala penari striptease. Karena berkiblat pada televisi maka selera pun nyaris seragam.
Sayangnya ajang-ajang pencarian bakat ini menemukan bintang dengan akumulasi SMS. Beberapa peserta lebih sering menarik simpati publik dengan menjual kisah sedih. Simpati merupakan kekuatan dan kelemahan. Kekuatan yang dihasilkan bisa berupa peluang untuk disukai, dihargai. Namun keadaan ini bisa membuat seseorang tidak lagi menilai secara objektif sehingga kualitas tidak lagi jadi nomor satu.
Sebenarnya diakui atau tidak nilai kontraklah yang membuat para pemain sinetron stripping yang kebanyakan remaja rela menjalani hari-hari yang kaku. Syuting hingga larut malam, tidur, bangun, sekolah, syuting lagi. Begitulah setiap hari.
Bayaran yang besar tentu menuntut pengorbanan yang besar pula. Masa kanak-kanak dan remaja mereka hilang atas nama profesionalisme. Mereka kehilangan waktu bermain, tak punya kesempatan untuk bersosialisasi secara normal. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian bermasalah dengan obat-obat terlarang, gaya hidup bebas, kabur dari keluarga, hingga percobaan bunuh diri.
Ternyata, uang melimpah dan popularitas tak bisa mencukupi kebutuhan psikologis mereka pada masa perkembangan karena memang belum saaatnya mereka jadi pekerja.
David Buckingham, seorang filsuf Jerman mengatakan; media mengenalkan anak kepada dunia orang dewasa dan membuat mereka tercerabut dari fase yang sebenarnya. Keluasan media tanpa kontrol membuat anak berpeluang mendapat asupan negatif yang kerap luput disadari.
Jadi, pendampingan orang tua muthlak perlu karena televisi dan internet menyimpan banyak pelajaran, mulai dari mengenal satwa hingga perebutan harta benda. Keduanya memang sebuah benda mati namun selalu hidup di hati penonton dan penggunanya yang selalu menjadi teman setia.
Buku terbitan Pustaka Nusantara ini merupakan dokumentasi dari tulisan-tulisan penulis yang pernah diterbitkan harian Suara Merdeka. Isinya sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Buku ini cocok dibaca semua kalangan. Terlebih bagi mereka yang ingin belajar menulis artikel, buku ini bisa jadi acuan.
* * *
Dimuat harian Singgalang, 28 September 2014