Rabu, 11 Juni 2014

Jilbab, Sebuah Identitas Khas



                                 Judul buku            :  Biarkan Hijabku Berkibar
Penulis                   :  Tazkia Fatimah, Annisa Fitriani, dkk
Tahun terbit           : November 2013
Penerbit                 :  Oase Qalbu
Jumlah halaman     :  190  halaman




SEBUAH IDENTITAS
Memang tidak mudah memutuskan berjilbab bagi sebagian perempuan muslim, apalagi istiqamah memakainya. Banyak alasan menyembul ke permukaan yang membuat ragu seorang muslimah dalam mengambil keputusan. Mulai dari cemoohan orang-orang di sekitar, merasa kurang cantik, takut tidak mendapat pekerjaan yang diidamkan, takut tidak bisa menjaga sikap dan perkataan.
Dalam masyarakat, muslimah yang berjilbab kerap dianggap ‘lebih’ daripada yang tidak berjilbab. Padahal memakai jilbab bukan berarti bersih dari dosa dan lebih baik daripada orang lain.
Mengenai hal ini, Saptandia Wulan Cahyaning Lestari mengatakan, jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab murni karena perintah Allah. Wajib bagi semua wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlak baik atau buruk. Sedangkan akhlak adalah budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran itu bukan karena jilbabnya, namun karena akhlaknya. (hal. 25)
Dalam surat Al Ahzab ayat 59 Allah berfirman; “Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu...”
Ayat tersebut menyebutkan tujuan yang jelas dari jilbab itu sendiri; agar dikenali dan tidak diganggu. Jilbab adalah sebuah identitas. Yang dimaksud jilbab di sini adalah pakaian yang lapang, dapat menutup kepala, muka dan dada. Annisa Fitriani, 18 tahun, membuktikan kebenaran ayat tersebut dalam perjalanannya ke Rusia.
Annisa datang ke Rusia untuk mengikuti perlombaan penelitian tingkat internasional. Kedatangannya di bandara bukanlah awal yang menyenangkan. Dia harus berurusan dengan pegawai polisi dalam pemeriksaaan khusus. Sebelumnya pembimbingnya sudah menyarankannya untuk buka jilbab untuk cari aman, namun Annisa kukuh memakainya.
Di Moscow State University, pilihannya untuk tetap memakai jilbab terbukti tidak salah. Ketika acara makan siang dan semua orang menuju ruangan tempat makan, Annisa diajak ke ruangan yang terpisah oleh seorang pelayan. Di ruangan itu dia dibawa ke sebuah meja yang di atasnya terdapat tulisan “for moslem only”. Sang pelayan menjelaskan; mereka menyediakan makanan khusus muslim dan mereka menandai peserta muslim dari jilbabnya.
Pada hari berikutnya, khusus hari santai, panitia mengadakan acara dansa dan disco. Yang mereka maksud dansa adalah tarian-tarian daerah. Menjelang usai acara, peserta diminta membentuk dua lingkaran. Lingkaran bagian dalam terdiri dari sesama perempuan. Lingkaran luar diisi peserta laki-laki. Mereka saling bergandeng tangan dan berlari berputar dengan arah yang berlawanan, mengikuti lagu yang dinyanyikan. Di sini permainan dimulai tanpa pemberitahuan sebelumnya. Seorang peserta laki-laki diminta mengalungkan selendang pada peserta perempuan yang diinginkannya. Lalu mereka bersimpuh dalam lingkaran dan berciuman. Begitulah seterusnya. Sedang yang belum terpilih tetap meneruskan dansa.   
Sampailah pada giliran Annisa, seorang laki-laki mendekat padanya. Membuatnya berkeringat dingin, dia mencoba untuk mengusir laki-laki tersebut dan berniat kabur dari barisan. Namun sebelum laki-laki itu mencapainya, lagu berhenti. Permainan usai.
Waktu istirahat seorang peserta dari Belanda menghampirinya dan berkata; “Hey, kamu, saya tadi sudah hampir memilih kamu lho. Tapi saya lihat kamu benar-benar tidak enjoy dengan permainannya, dan kamu juga memakai penutup kepala seperti yang di Arab-Arab sana. Jadi kupikir kamu pasti tak mau melakukan permainan itu. Makanya saya memilih perempuan lain.” (hal. 148)
Annisa selamat.
Dalam perjalanan pulangnya menuju tanah air, Annisa singgah di Jerman dan menemukan McD di sana. Ketika hendak memesan burger dan minuman, sang pelayan memperhatikannya dan berujar; “Maaf, burger kami terbuat dari babi. Anda muslim kan? Saya bisa memberi Anda ayam jika Anda mau. Atau tunggu sebentar, saya akan memasakkan daging untuk Anda.” (hal. 150)
Lagi-lagi Annisa selamat.
Sebuah anggapan yang dilontarkan kaum feminis radikal menyebutkan hijab dan pakaian longgar hanya akan menyebabkan perempuan muslim kesulitan berkontribusi dalam masyarakat. Bila ke luar rumah mereka harus sembunyi-sembunyi. Dan suara mereka hanya bergaung dalam kepalanya sendiri tanpa didengar siapapun.
Untuk membantah hal ini, Tazkia Fatimah, 21 tahun, mengikuti Global March to Jerussalem beberapa waktu lalu. Bersama ratusan peserta dari negara Asia, dia mengadakan perjalanan darat melintasi Pakistan – Iran – Turki – Lebanon dan berakhir di Jordan. Di bandara Soekarno-Hatta, dia dilepas oleh ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.
Di sana, Tazkia sering diminta mewakili delegasi Indonesia untuk wawancara. Di setiap kesempatan dia selalu menunjukkan identitasnya sebagai muslimah dari Indonesia. Tazkia  mengatakan; jilbab menjulur dari dari kepala hingga dada hanya untuk menutup leher dan dada mereka, bukan otaknya. Para muslimah tidak perlu menonjolkan dada dan lekuk tubuhnya agar suaranya didengar dan kontribusinya diakui.
Buku ini berisi sekumpulan kisah muslimah (kebanyakan berusia muda) yang berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Istiqamah berhijab sebagai bukti taat pada rabnya sambil terus berkiprah dan menunjukkan prestasi. Mereka telah membuktikan bahwa hijab bukan penghalang. Mereka menunjukkan bahwa dengan jilbabnya mereka mampu bersaing di dunia kerja, berprestasi di kancah nasional maupun internasional.
Masing-masing penulis bertutur dengan gayanya masing-masing. Tiap kisah memiliki kekuatannya sendiri. Ada yang dengan jujur mengurai alasannya memakai hijab; mulai dari menghormati norma daerah, peraturan sekolah, alasan keamanan hingga kesadaran diri sebagai makhluk. Kisah-kisah ini akan membuat kita tersenyum dan kadang terharu membacanya. Sangat inspiratif.
Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai pelajar, mahasiswa, wartawan, dokter, pemandu wisata, guru, dalang, penari dan pengabdi masyarakat. Ragam bahasa dengan berbagai latar belakang tersebut membuat buku ini menarik untuk dibaca, dinikmati dan direnungkan tentunya.***

*Dimuat Koran Riau Pos, 6 April 2014


Minggu, 01 Juni 2014

RANTAU


Oleh: Zurnila Emhar Ch

Sumi masih terus memegangi handuk kecil yang ditempelkan di kening Rani, anaknya yang berusia empat tahun. Udara yang panas membuat Sumi harus rajin membasahi handuk itu dengan air yang ada dalam botol mineral yang dipegangnya. Udara telah membuat handuk itu kering dangan cepat.
Sudah hampir satu jam Sumi duduk dalam bus ini sambil menggendong Rani. Bahkan kakinya sudah mulai kram. Namun dia mencoba bertahan. Dia harus kuat menggendong Rani hingga mereka sampai di kampungnya. Itu artinya dia harus menggendong Rani selama sebelas jam. Sebelas jam! Mau apalagi?! Uangnya hanya cukup untuk membeli satu tiket. Salim tidak memberinya uang. Walau sekedar untuk beli minum di jalan.
Sebenarnya Sumi malu untuk pulang kampung. Kepergiannya ke rantau adalah pelarian. Emak dan Bapak yang tidak merestui hubungannya dengan Salim memberinya pilihan; menolak lamaran Salim dan tetap menjadi anak mereka atau menerima lamaran Salim dan keluar dari rumah. Sumi memilih yang kedua. Dia yakin dia bisa menaklukan rantau bersama Salim. Seperti Laila, tetangganya. Sejak menikah dan tinggal di rantau, kehidupan Laila semakin baik. Setiap pulang kampung, penampilan Laila selalu membuat orang kampung iri, termasuk Sumi. Alangkah beruntungnya Laila dapat suami seorang pedagang sukses.
Ketika Salim datang padanya, Sumi seperti mendapat durian runtuh. Salim yang perlente. Penampilannya necis. Rokoknya pun berkelas. Dan setiap pulang kampung dia sering mentraktir orang-orang minum di kedai, kata Ujang, adik Sumi. Di mata Sumi, pastilah Salim berhasil di rantau. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa pulang pergi dengan mobil rental.
“Jangan Salim, Sumi. Bapak tidak yakin dia bisa menjadi pemimpin yang baik untukmu” kata Bapak kala itu.
“Itu hanya penampilan luarnya. Jika Bapak perhatikan dia berceloteh di kedai, dia lebih banyak berbual. Nanti kamu menyesal.”
Tapi hati Sumi sudah mantap. Salim adalah pilihan yang tepat untuknya. Dia akan merantau. Melihat gedung-gedung bertingkat, jalan raya yang tidak pernah sunyi, berbelanja di mall, makan ayam di KFC seperti yang sering dia lihat di TV. Jika pulang kampung nanti tentu tubuhnya sudah mengilap oleh perhiasan. Seperti Laila! Ah, Sumi ingin melebihi Laila.
Bapak Sumi lebih keberatan lagi karena Salim sama sekali tidak menunjukkan sikap hormat padanya ketika bertamu ke rumah Sumi. Bicaranya selalu meninggi. Dan cara dia memandang Sumi yang sintal dan berisi seakan dia ingin menelannya bulat-bulat.
“Yang Bapak lihat di mata laki-laki itu cuma nafsu. Kelak kamu yang akan teraniaya. Bapak tidak mau itu terjadi”
Bagi Sumi penolakan Bapak lebih dikarenakan Bapak menginginkan Sabri menjadi menantunya. Sabri memang petani. Dia ulet dan rajin. Tapi jika menikah dengan Sabri tentu Sumi tidak akan pernah melihat gedung-gedung pencakar langit. Sumi tidak akan pernah naik jenjang berlari di pusat perbelanjaan. Dan tentu Sumi tidak akan pernah bisa menceritakan pengalamannya makan ayam KFC atau pizza. Di kampung semua itu kan tidak ada. Setiap hari dia akan berkutat dengan sabit, lumpur, padi, bawang, dan segala hasil ladang. Dan di bawah tudung saji dia hanya akan menemukan ikan asin, keripik talas, daun singkong atau sayur bayam yang dipetik di belakang rumah.
Huh! Sumi sudah bosan dengan kehidupan yang seperti itu. Dia ingin berubah. Dia ingin melihat dan menikmati sesuatu yang baru! Dan Salim adalah jawabannya.
Rani berguncang-guncang dalam pelukannya. Panasnya makin tinggi. Gigilnya makin kuat. Bus mulai berjalan dengan pelan.
Seharusnya Salim ada di sini, pikir Sumi. Mereka bisa bergantian menggendong Rani sambil mengompres kepalanya. Perempuan yang duduk di sampingnya memandangnya dengan sinis, menjentikkan rokoknya. Jika kaki Rani menyentuh pahanya, perempuan itu langsung mengibaskannya dengan kasar. Sumi mempererat pelukannya. Dirapatkannya kaki Rani agar tidak menyentuh perempuan itu.
Di antara hentakan musik disco yang ditonton penumpang dari TV kecil di langit-langit bus, Sumi mendengar perempuan itu bertanya pada stokar bus, “Masih ada bangku kosong gak? Saya mau pindah! Di sini bau!”
Sumi hanya memandang ke jendela. Menyaksikan pohon-pohon yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Tebing-tebing yang terlihat putih dengan batu kapurnya. Juga sungai yang berair kotor. Sumi tercenung. Ia ingat rumahnya. Rumah papan kecil di pinggir sungai Siak. Jika hujan deras, air sungai naik. Semua benda-benda di rumahnya mulai merapung. “Masih untung kita tidak tidur di emperan toko!” jawab Salim ketika Sumi mempersoalkan rumah mereka.
Sumi pun mulai membiasakan diri dengan lingkungan barunya. Sungguh jauh dari yang dia bayangkan. Dulu Salim bercerita bahwa dia mengontrak rumah di sebuah perumahan yang asri dan bagus. Sepuluh juta pertahun. Dengan gaji Salim yang besar mereka masih mampu menikmati hidup mewah. Namun kenyataannya, Salim hanya seorang stokar oplet. Penghasilannya tidak menentu. Apalagi dia memiliki kegemaran mengikuti judi sieji.
Untuk menyangga keuangan rumah tangganya, Sumi pun menjadi buruh cuci. Dan sejak Rani lahir dia mulai memulung. Penghasilan yang tidak seberapa itu membuat Sumi dirundung hutang. Beli rokok Salim pun berasal darinya. Pun uang untuk siejie. Salim selalu menjanjikan kemenangan. Walau itu tidak pernah terjadi. Kalaupun dia menang taruhan, uangnya tidak pernah singgah ke tangan Sumi. Jika Sumi menolak memberikan uang padanya, Salim tidak segan-segan menghancurkan barang-barang yang ada di rumah. Semua benda berhamburan. Pecah. Berantakan.
Ketika Ujang datang menjenguk Sumi ke kota, dia menangis. Tidak pernah Sumi melihat adiknya menangis. Tapi kali itu Ujang menangis bersamanya saat dia mengisahkan hidupnya. Hati Sumi pun sakit waktu Salim memberi titah bahwa Ujang hanya boleh tinggal dengan mereka selama tiga hari. Menurutnya keberadaan Ujang hanya akan memberatkan mereka. Namun tanpa malu, Salim berani minta uang untuk beli rokok dan siejienya pada Ujang.
Salim juga yang mengusulkan Ujang membawa Amat – anak sulung mereka yang berusia enam tahun – ke kampung. Di rantau ini, kemungkinan Amat untuk sekolah sangat kecil. Sementara di kampung, orang tua Sumi terbilang mampu. Tidak mungkin mereka menolak menyekolahkan putra dari anak perempuan satu-satunya. Salim berdalih akan menjemput Amat jika kehidupan mereka sudah membaik lagi. Sumi menangis dalam hati. Kehidupan membaik yang mana yang dimaksud Salim?
Selain hutang di kedai untuk keperluan rumah tangga, Sumi juga harus melunasi hutang-hutang Salim pada teman-temannya ataupun kedai tempat dia minum. Tidak jarang pula dia harus menyaksikan Salim pulang ke rumah dengan wajah bonyok. Dia dipukuli karena tidak bisa membayar hutang. Jika sudah demikian Sumi akan terenyuh dan iba pada suaminya. Dia berjanji melunasi hutang-hutang itu. Dan Salim memujinya sebagai istri yang baik.
Sudah dua tahun dia tidak bertemu Amat. Sumi sudah kepalang rindu. Sudah sebesar apakah dia sekarang? Apakah dia masih mengenali Sumi? Dan apakah Bapak akan menerima Sumi? Sumi tidak tahu. Sejak Hp pemberian Ujang dirampas Salim, Sumi tidak pernah lagi mendengar kabar keluarganya.
Ah, Sumi malu.
“Hei! Anakmu kejang-kejang tu!”
Sumi kaget. Perempuan di sampingnya berteriak dekat telinganya. Sumi kembali mengompres kepala Rani dengan handuk yang dibasahi dengan air mineral. Baru tiga jam perjalanan, bisik hatinya ketika melihat jam di atas kepala si supir bus. Bus ini berjalan begitu lambat. Untuk sampai ke kampungnya butuh waktu delapan jam lagi.
Rani  menggelinjang-gelinjang. Wajah Sumi pias. Ketakutan menyergapnya.
“Anak sakit kok gak diobati! Mana bisa cuma dikompres!” teriak perempuan itu lagi pada perempuan lain yang duduk di sisi bus sebelah kiri. Beberapa orang mulai memandang Sumi. Sumi panik. Dipeluknya Rani yang kejang-kejang dengan erat. Air mata Sumi berhamburan.
   Dia memang tidak pernah membawa Rani berobat. Ketika panasnya mulai naik, Sumi cuma membeli obat penurun panas di kedai. Cukup murah, hanya ribuan. Saat itulah Sumi merasa kampung memanggilnya pulang. Dia harus pergi meninggalkan Salim. Salim yang tidak pernah peduli padanya, Amat, juga Rani.
   “Hati-hati! Kalau terjadi sesuatu pada anakmu kita semua bisa sial!” perempuan itu kembali bersuara. Hati Sumi sakit.
   “Kalau bicara baik-baik, Kak! Anak saya memang sakit, tapi dia akan bertahan.” teriak Sumi.
Makin banyak kepala memandangnya.
“Syukur kalau dia sanggup bertahan…”
Sumi geram. Namun dia tidak bisa apa-apa. Rani makin kejang-kejang. Sumi memeluknya makin erat.
* * *
Bus terus melaju. Air mata dan ingus menyatu di wajah Sumi. Dalam isaknya dia meratapi nasibnya dan anaknya. Sempat dia berpikir inilah balasan Tuhan untuk kedurhakaannya.
Sumi kembali berpaling pada Rani ketika dirasakannya ada yang berubah. Urat leher Rani mulai mengendur. Begitu juga dengan gerakan tangan dan kakinya. Semua tak bergerak. Kepalanya pun terkulai.
“Rani…. Rani….” Sumi menggoyangkan tubuh anaknya. Penumpang di bangku depan dan belakang melongok kepadanya. Rani tetap diam.
Seorang bapak-bapak yang duduk di depan memeriksa dahi Rani. Lalu nadinya. Kemudian bapak itu menggeleng-geleng. Menatap Sumi prihatin.
“Rani! Rani! Bangun, Nak!” Sumi histeris.
“Meninggal, Pak?” perempuan sinis menatap bapak itu dengan ngeri.
Bapak tersebut kembali ke kursinya tanpa bicara. Namun tetap menggeleng.
“Mayat dong?!” perempuan itu lagi-lagi teriak.
“Apa?! Ada mayat?”
“Bus ini membawa mayat!”
“Kita tidak bakal sampai di kampung!”
“Usir!”
“Suruh turun!”
Suara-suara itu makin berdengung. Sumi makin kalut. Dada Rani tidak lagi naik turun. Desahnya pun tak lagi terdengar.
Sumi mengedar pandang memelas. Dia merasa semua orang menghakiminya. Sopir pun mulai memandangnya lewat kaca spion. Sopir itu memandangnya tajam dengan kening yang mengernyit. Lama pandangan mereka beradu. Saat itulah, dari balik tikungan arah berlawanan datang sebuah bus dan nyaris bertabrakan dengan bus yang mereka tumpangi. Bus sedikit miring karena sopir banting stir. Semua orang berteriak. Bus berhenti.
“Pasti karena mayat ini ni!”
“Ya, suruh dia turun.”
“Usir!”
“Usir!”
“Kita bisa celaka.”
"Tapi mau dibawa kemana anaknya. Kasihan.”
Satu persatu penumpang bus mendekati Sumi. Memeriksa nadi Rani. Rani seperti kayu. Kaku.
Kalimat-kalimat pengusiran berhamburan. Bus mendengung seperti sarang lebah. Tangis Sumi makin keras. Kampungnya terasa makin jauh. Dan bayang Amat makin suram.*** (Zech)

Pekanbaru, 3 Juni 2010


*dimuat Koran Haluan, 18 Mei 2014


Senin, 12 Mei 2014

Intrik Percintaan dan Pertobatan Pekerja Seks



                                 Judul buku             :  Kau Bidadari Surgaku
Penulis                   :  Ade Kurniawan
Tahun terbit            :  April 2014        
Penerbit                 :  Rumah Oranye
Jumlah halaman      :  354  halaman
ISBN                     :  978-602-1588-37-6








KETIKA MANTAN PELACUR BERTAUBAT

Menjadi bidadari adalah impian setiap perempuan. Baik di dunia maupun di akhirat. Namun tentu saja jalan menuju predikat itu tidaklah mudah. Ada banyak rintangan yang harus dilewati. Kiranya itulah yang diceritakan Ade Kurniawan dalam novel Kau Bidadari Surgaku ini.
Pada mulanya Marwah datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Niatnya menjadi pembantu rumah tangga justru membuatnya terlunta-lunta di ibu kota tanpa sanak saudara. Untuk mengganjal perutnya, Marwah menjadi tukang cuci piring di warung hingga dia bertemu Shinta.
Persahabatan di antara mereka terjalin erat layaknya saudara sekalipun berbeda keyakinan. Untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di kampung, Shinta menjadi wanita panggilan. Walaupun demikian, dia memiliki hati yang tulus. Tanpa ragu, dia pernah menyerahkan tabungannya sebesar 15 juta untuk pengobatan anak tetangganya yang terserang kanker.
“Kita memang palacur, namun kita bukanlah manusia tanpa nurani. Dengan menjadi pelacur, bukan berarti kita harus tak peduli dengan derita sesama,” katanya. (hal. 187)
Dan Shinta terang-terangan menentang keinginan Marwah untuk mengikuti jejaknya. Namun dia tidak bisa menghentikannya ketika Marwah telah menjatuhkan pilihan pada profesi tersebut.
Setiap bulan Marwah selalu mengirimi ibu dan adiknya uang. Dia juga menjadi donatur tetap sebuah yayasan panti asuhan. Tiga tahun lamanya dia menikmati pekerjaannya.
“Yang penting buatku adalah, aku tidak merugikan orang lain serta bisa membuat orang-orang di sekitarku bahagia.” (hal. 30)
Marwah juga bangga ketika orang-orang di kampung mengenalnya sebagai penderma. “Semua yang aku lakukan bukan semata-mata karena Allah, melainkan hanya sebagai topeng agar aku, terutama ibuku selalu dihargai orang lain.” (hal. 30)
Perkenalannya dengan Hamzah, seorang ustadz muda, ternyata menyentuh sisi rohaninya. Marwah berencana meninggalkan dunianya. Saat yang bersamaan, Shinta tertangkap oleh Komisi Pemberantassan Korupsi saat berduaan di hotel dengan seorang pengusaha yang merangkap ketua partai besar. Pemberitaan yang buruk tentang Shinta menjadi ketakutan yang terus membayangi Marwah. Dia tidak siap jika orang-orang tahu dia seorang pelacur. Apalagi sampai dibenci keluarganya.
Marwah mulai rajin megikuti pengajian. Penampilannya juga berubah. Shinta pun mendukung perubahan positif padanya. “Aku tidak pernah meragukan Tuhan dalam hal mengampuni hamba-Nya yang berdosa,” Shinta berujar lirih. (hal. 199)
Seiring waktu Hamzah mulai menyukai Marwah. Namun kedekatan mereka senantiasa diawasi Shafa, teman pengajian Hamzah yang juga menyukainya.
Berbeda dengan novel berlabel islami kebanyakan, novel terbitan Rumah Oranye ini justru menghadirkan sosok antagonis dalam diri Shafa. Gadis cantik yang selalu menggunakan kerudung yang hampir menutupi sebagian tubuhnya itu ternyata menyimpan kedengkian. Penolakan Hamzah atas lamaran ayahnya membuat Shafa merencanakan sebuah kejahatan untuk menyingkirkan Marwah di kemudian hari. Ketika kebanyakan orang menulis kebaikan-kebaikan dalam sosok yang agamais, Shafa hadir sangat natural.
Ketika Marwah masuk rumah sakit karena magh kronisnya, Shafa berhasil mengajak dokter bekerja sama untuk memberikan diagnosa dan obat yang salah kepada Marwah. Mantan wanita panggilan itu didiagnosa mengidap HIV dan sedang hamil dua bulan. Sedangkan waktu itu dia baru menikah satu minggu. Hal ini membuat Hamzah menjatuhkan talak padanya.
Novel ini juga menyuguhi pembaca dengan penggalan-penggalan hadits dan kisah-kisah yang bisa menjadi tuntunan. Hanya saja ceramah Hamzah tentang menyambut ramadhan terasa terlalu panjang. (Hal. 323 - 328)
Selain silang sengkarut hubungan Marwah dan Hamzah, penulis juga mengungkapkan sebuah rahasia. Rupanya Marwah bukan anak kandung ayahnya. Mengetahui kenyataan itulah yang telah membuat ayahnya meninggal.
Pada akhirnya jalinan cerita ini terkesan kurang alami. Mungkin karena rentang waktu yang digunakan penulis untuk berkisah terlalu pendek. Marwah masuk rumah sakit dan ditalak pada awal ramadhan. Kemudian Hamzah mulai dekat dengan Shafa. Dan kebusukan Shafa terbongkar menjelang lebaran.
Selain rentang waktu yang sempit, beberapa kesalahan EYD juga mengurangi kenyamanan membaca. Di samping itu, penulis juga tidak konsisten menggunakan panggilan Mak atau Ibu. Jika konsisten tentu akan lebih baik.***

Dimuat Koran Jakarta, 10 Mei 2014